MASIGNCLEAN101

Royal Roader on My Own Chapter 1

Royal Roader on My Own | Chapter 1 - Akhir tidak lain hanyalah Awal Yang Baru


"Hwi Ram! Apa terjadi sesuatu?"

Kurasa, Aku benar benar payah dalam menyembunyikan ekspresiku. Tuan kim yang bekerja di pencucian mobil denganku langsung tahu.

"Bukan apa apa."
"Lalu kenapa ekspresimu hari ini sangat suram? Mereka akan memotong gaji kebaikanmu."

Gaji kebaikan! Dengan kata lain, senyum bayaran. Disini adalah tempat cuci mobil yang mewah. Oleh karena itu, Kami para pekerja disini tidak hanya menjual fisik Kami, Kami juga menjual senyum Kami bersamaan dengannya.

Itulah mengapa meskipun Kami dalam suasana sedih, Kami harus tetap tersenyum. Jika tidak, mereka akan berhenti membayar Kami.

"Hari ini Aku benar benar lelah. Haha."

"Kita mulai! Kau bukan Hwi Ram tanpa senyum hangat itu. Semenjak menjadi orang yang selalu tersenyum muram, Kau terlihat seperti orang yang sedang marah. Haha."

Seseorang yang selalu bisa tersenyum!

Bagaimana mungkin seseorang seseorang selalu bisa tersenyum? Tidak peduli siapapun itu, akan ada saatnya hidup mereka sulit. Terutama hari ini begitulah bagiku. Hal itu membuatku ingin membuang segalanya dan menyerah.

Ada apa denganmu?

Hari ini adalah hari dimana 'Royal Roader' menutup layanannya.
Yah, 'Royal Roader' adalah game komputer.

Kau mungkin bertanya mengapa hal itu begitu mengerikan, hanya game komputer bodoh yang  mengakhiri layanannya. Kupikir kau benar. Kenapa juga Aku malah menghadapi kesulitan karena game komputer yang sepele ini?

Royal Roader adalah satu satunya kebahagiaanku dan tempatku beristirahat, juga tempat yang aman untukku. Kehilangan Royal Roader rasanya seperti kehilangan separuh hidupku sekaligus.

Itu adalah hal yang tidak mungkin orang lain mengerti. Ini hanya masalah pribadi.

Itu sebabnya, melewati ini adalah sesuatu yang juga harus kulakukan sendiri.

'Yah, tersenyumlah! Aku harus tersenyum demi mendapatkan uang untuk biaya obat ibuku dan membayar tagihan.'

Pelanggan baru datang. Dia mengendarai mobil sport atap terbuka berwarna hitam.
Pemilik mobil sport sudah biasa mencuci mobilnya di pencucian mobil.
Aku tidak yakin soal usianya, tapi melihatnya dan caranya berjalan, sepertinya dia berusia awal atau pertengahan dua puluh tahunan. Dia sepertinya lebih muda tiga atau empat tahun dariku.

Aku segera bergegas dan menundukkan kepalaku. Tentu saja dengan senyum hangat.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Sementara itu, seorang wanita datang dari arah sisi yang berbeda.
Dia punya banyak game. Dia datang ke tempat cuci mobil ini setidaknya seminggu sekali, tapi setiap kali Dia datang, Dia bersama wanita yang berbeda.
"Kerjakan dengan hati hati dan pastikan gak ada goresan sedikitpun!"
Tapi kenapa orang ini selalu ngoceh padaku? Apa orang tuanya tidak mengajarinya sopan santun dasar?
Kalau Kau bekerja di tempat seperti ini, Kau akan melihat beberapa orang yang menyukainya. Mereka berpikir kalau memliki uang berarti kau lebih terhormat dan memandang rendah orang orang yang bekerja seperti Kami.
Hal itu membuatku bertanya tanya, sebenarnya apa yang dipelajarinya di rumah.
Setiap kali dia berbicara padaku selalu saja seperti itu, aku merasakan bagian dalamku mulai terkoyak.
Bagaimanapun juga, aku harus menahan diri. Itulah mengapa bos selalu baik pada para pekerja dan menggaji kami tinggi.

Pelanggan mengambil uang 10.000 won dari dompetnya lalu menyerahkannya padaku.
Ini tip, yang terpisah dari gajiku.
Pertama, Aku akan menerima apa yang harus kuterima.
Bukan berarti uang itu yang merendahkanku.
"Terima kasih banyak."
"Astaga! Oppa, kau sangat keren!"
"Nih 10.000 won. Aku akan kembali dalam 3 jam, jadi pastikan untuk memperhatikan setiap sudut."
"Baik, Tuan"
Pelanggan itu melingkarkan lengannya di pinggang ramping sang wanita dan pergi meninggalkan tempat tempat cuci mobil.

Sial. Aku benar benar iri padanya!

Mereka bilang kau kalah jika Kau iri, tapi bukankah akan lebih buruk kalau Kau menipu dirimu sendiri dengan bilang gak iri saat Kau mengalaminya? Yah! Kalau Kau iri, itu artinya Kau iri!

Aku juga ingin hidup seperti itu. Aku ingin mengendarai mobil sports keren, Aku ingin kencan dengan wanita cantik. Dan aku ingin menghabiskan uang  dan bersantai di lapangan hijau, memukul bola golf sementara yang lainnya bekerja.

Meski begitu, Aku tidak akan bicara informal pada orang lain seperti orang itu.  Tidak peduli apapun yang terjadi, Kau tidak boleh kehilangan rasa hormatmu.

Tapi apa Kau pikir hal seperti itu bisa terjadi di kehidupanku?
Aku tidak mau menghabiskan 8.000 won sampai sampai Aku bahkan gak bisa makan roti soondaeg yang sangat kusukai. Aku tinggal di goshiwon dengan sewa 150.000 won (sebuah kamar sangat kecil tempat siswa tinggal sebelum ujian besarnya, mirip kos kosan lah) dimana Aku bahkan tidak bisa merenggangkan kakiku dengan semestinya. Bagaimana mungkin orang sepertiku bisa tinggal di tempat seperti ini?

Tapi, hari ini Aku benar benar tidak punya gairah. Bahkan saat Aku sedang mencuci mobilpun, satu satunya hal yang ada di pikiranku adalah 'Royal Roader'.

'Haaah, mulai besok, apa kesenanganku untuk terus hidup?'
Begitulah, sudah waktunya untuk pergi.
Seluruh tubuh sudah lelah.
Tapi Aku masih sedikit bersemangat. Setidaknya sampai hari ini, Aku bisa menikmati Royal Roader. 'Nyalakan api terakhir dan mainkan sampai akhir!'

Sayangnya, gangguanpun datang.
Riiiiiiing Riiiiiiing
Pacarku, Hae Sook, menelpon.

-"Kita ketemuan. Ada hal yang ingin kukatakan"-
Nada suaranya dingin lagi.
Belakangan ini sudah sering seperti ini. Kupikir mungkin sudah waktunya putus.
Royal Roader memang penting, tapi apa ini lebih penting dari pacarku?
"Sekarang kau ada dimana?"
-"Aku akan pergi ke rumahmu. Keluarlah ke taman bermain"-
Rumahku?
Bagaimana bisa Kau menyebut goshiwon 150.000 won murah ini sebagai rumahku?

Area sekitar goshiwon gak bagus bagus amat. Itulah mengapa rasanya Aku tidak enak bertemu seseorang disekitarnya.
Tapi Hae Sook selalu melakukan apa yang diinginkannya. Dia tidak menanyakan pendapatku dan memutuskan sendiri dimana tempat ketemuannya.

Taman bermain dekat dengan goshiwon.
Aku lapar setelah bekerja seharian. Aku harus memberitahu Hae Sook kalau Kita harus makan dulu saat bertemu dengannya nanti.
Bahkan meskipun Aku gak bisa memulai pembicaraan apapun soal makanan. Sepertinya dia akan melempar bom begitu kami bertemu.

"Kita putus yuk."
Dia memang banyak mengeluh akhir akhir ini, tapi ini adalah kali pertamanya Dia mengatakan Kami harus putus. Sepertinya tingkat mengeluhnya semakin menjadi jadi.
Tapi melihat dari ekspresi Hae Sook, sepertinya itu bukan hanya sekedar keluhan. Tampaknya Dia sudah mengambil keputusan yang teramat sulit.
"Kenapa kau tiba tiba ingin putus?"
"Aku tidak bisa melihat masa depan dalam dirimu, Oppa. Dan itu bukan karena Kau punya banyak uang. Kau bahkan gak peduli padaku."
Hae Sook memalingkan wajahnya saat Dia berbicara. Tampaknya Dia tidak punya keinginan untuk menyelesaikan masalah.

"Kau lamban dan bahkan Kau tidak tahu caranya melucu......"

Sedikitnya banyaknya Aku punya kekurangan!
Yah! Kuakui, Dia memang benar! Bahkan Aku sendiripun tahu. Aku adalah orang yang tidak memiliki banyak hal dan juga kurang dalam beberapa bidang. Meskipun begitu, tidak banyak yang bisa kulakukan untuk itu. Ini adalah situasi yang tidak bisa kuubah tidak peduli seberapa keraspun Aku mencoba, jadi apa yang bisa kulakukan?

"Oppa, apa Kau tahu hal yang paling kusukai? Bahkan Kau gak masuk uni..."
"Sudah cukup! Berhenti sampai disitu!"
Aku menghentikan perkataannya Hae Sook.
Setelah mendengar sedikit perkataannya kupikir Aku menemukan jawabannya. Dia pasti menemukan pria baru.
Bagaimana Aku bisa tahu?
Sejak awal Dia sudah tahu situasiku. Bahkan, dia yang mengejarku, menyatakan kalau dia menyukaiku terlepas dari situasiku.

Yang paling penting, Dia membeberkan masing masing dan setiap kelemahanku. Dia melakukannya dengan sengaja. Ini memberi tahuku kalau Dia bulat untuk memutuskan semua hubungan denganku.
"Lalu kenapa Kau masih saja menemuiku sampai sekarang?"
"Itu karena..."
"Jujurlah padaku. Jika Kau bosan denganku, katakan Kau bosan denganku. Jika Kau menemukan pria baru, bilang padaku. Atau, ada sesuatu yang membuatmu kesal, bilang padaku."
"Baiklah sekarang, aku akan jujur padamu."
Setelah mendengar perkataanku, Hae Sook menurunkan pandangannya. Sepertinya Dia sudah siap untuk memberitahuku apa yang ada dibenaknya.
Baiklah, setidaknya aku mendengar alasannya. Kenapa dia tiba tiba ingin putus?

Bersambung...(Selanjutnya)
Sumber https://aggsannovel.blogspot.com/