MASIGNCLEAN101

Royal Roader on My Own Chapter 2


Royal Roader on My Own | Chapter 2: Akhir tidak lain hanyalah Awal yang Baru (2)



"Oppa, Kau orang yang sangat baik. Akan tetapi, Aku benci segalanya yang ada disekitarmu. Ini bukan keluarga yang bisa kutangani. Aku benar benar tidak yakin bisa hidup bersama Ayah mertua dan Kakak ipar seperti Mereka."

Seperti dugaanku, pasti karena itu.

Aku tidak bisa berkata apapun. Aku 100% setuju, tidak mungkin 200%, dengannya. Bahkan jika Aku jadi Hae Sook, Aku sama sekali tidak ingin masuk dalam keluarga seperti itu.

Sialan! Hae Sook mengingatkanku kenangan buruk dari masa laluku.

Hidupku sangat cocok jika digambarkan dengan kata kutukan.
Saat Aku berumur 12 tahun, perusahaan ayahku bankrut.
Kemudian Dia melarikan diri, meninggalkan keluarganya dan menyisakan hutang yang banyak.
Beberapa hari kemudian, semua saudara tiriku kabur sama seperti ayahku.

Pada saat yang bersamaan, Aku mendengar kabar tentang ayahku dan saudara tiriku. Ayahku membangun keluarga baru dengan beberapa wanita di Pyeongtaek, dan saudara tiriku berakhir menjadi seorang gangster.

Setelah mengetahui hal itu, tidak heran hidup menjadi lebih sulit.

Kau bertanya seberapa sulitkah hidupku?

Mungkin orang orang sering berkata seperti ini kepadamu, lihatlah kebawah saat keadaan sulit. Lihatlah bagaimana orang orang yang lebih sulit daripada Kamu yang berusaha keras hanya untuk bertahan hidup.

Sayangnya, Aku tidak bisa menemukan orang seperti itu. Setidaknya disekitarku, tidak ada yang lebih kesulitan daripada Aku.

Ada saat saat dimana keadaanku membaik.
Saat Aku berada di bangku SMA, Aku dapat penghasilan dari Royal Roader. Aku bisa menyewa kamar dan Kami bisa keluar dari rumah kaca, Kami sebenarnya sudah bosan tinggal disini.

Di hari Kami pindah kamar, ibuku dan adik perempuanku minji, Kami bertiga mengadakan pesta Samgyupsal. (TL Note : Samgyeopsal [삼겹살; Pengucapan Korea: [samɡjʌp̚sal] ] adalah masakan Korea berupa panggang daging perut babi yang berlemak dan tebal.)

Kupikir itu adalah hari paling menyenangkan dalam hidupku.

Tapi kebahagiaan itu berakhir dengan cepat. Karena penyakit ibuku, keluargaku harus mengencangkan ikat pinggang lagi. Sama seperti sekarang, setelah Aku kembali dari wajib militerku. Bekerja di pencucian mobil mewah yang menggajiku 3.000.000 won (Note : sekitar Rp 36.000.000) sebulan, tapi setelah Kami harus membayar bunga pinjaman untuk membayar pengobatan ibu, hampir tidak ada yang tersisa.
Karena inilah Aku tidak bisa membenci Hae Sook bahkan meskipun dia mengatakan semua ini.
Aku ingin menahannya, tapi Aku tidak punya muka untuk melakukannya. Itu juga bukan karena dia memberiku kesempatan untuk melakukan itu.

"Dan seperti yang sudah Kau bilang, Aku memang sudah menemukan cowok baru. Kali ini, Aku bertemu dengannya dengan niat untuk menikah dengannya. Jadi Kita akhiri saja sampai disini."

Meskipun Aku ingin mengataka sesuatu, entah kenapa, bibirku tidak punya niat sama sekali untuk angkat bicara.

Lalu Hae Sook berhenti kemudian berdiri.

"Jangan hubungiku lagi. Gak, hapus saja nomerku. Aku juga akan menghapus nomermu. Kau tidak harus menemuiku lagi mulai hari ini."

Setelah mengatakan itu, Hae Sook berdiri sejenak sebelum akhirnya dia menghilang secepat angin.

Jika Aku boleh jujur padamu, Aku selalu khawatir. Aku selalu berpikir kalau Hae Sook akan meninggalkanku suatu hari nanti. Tidak mungkin gadis sepertinya akan menikah dengan pria sepertiku.
Mungkin itu sebabnya secara tidak sadar Aku sudah siap untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku ingin rasa sakit itu jauh lebih sedikit jika saat kubuang seperti itu.

"Baiklah! Jaga dirimu!"

Aku berpura pura baik baik saja saat meninggalkan taman bermain. Tapi, sesuai dugaanku, Aku sudah tak punya tenaga lagi. Disisi lain, Aku sudah merasa sangat depresi.

Bagian terburuknya adalah meskipun ditengah tengah keadaan ini, Aku lapar. Apa yang harus ada di perut bodoh ini sehingga 3 kali sehari, mengganggu seseorang sperti ini?

Mungkin ini karena bau soondaegookbap. Ada toko soondaegookbap tepat di depan goshiwon. Dan rasa makanan Mereka benar benar muaknyuss.
'Haruskah Aku pesan satu?'
Bagaimanapun, Aku tidak mau buang buang uangku. Aku harus hidup dari 400.000 won sebulan. Setelah bayar sewa goshiwon, Aku haruskehilangan 250.000 wonku.
Yang artinya, Aku harus menghabiskan sekitar 8.000 won per harinya.

Untungnya Aku bisa berjalan sejauh 3 Km ke tempat pencucian mobil, dan Aku bisa makan siang di tempat pencucian mobil.
Aku tidak minum ataupun merokok. Aku tidak pernah merokok dan toleransiku terhadap alkohol cukup tinggi, tapi Aku belum pernah mengeluarkan uangku sendiri untuk minum alkohol.

Masalahnya adalah 6.000 won untuk biaya internet dan telepon, tapi semenjak Royal Roader menutup layanannya. Aku tidak punya alasan untuk terus mempertahankannya.
Melakukan itu akan menyelamatkan uang bulananku sebanyak 3.000 won. Akhirnya Aku punya sedikit punya sedikit kelonggaran.
Tapi, kakiku bukannya menuju toko soondaegookbap malah ke toko sebelahnya.
'Bagaimana bisa Aku makan soondaegookbap di saat suasana hatiku lagi sangat sedih? Bisa bisa Aku sakit perut nantinya. Makan sebentar saja.'

Pada akhirnya, Aku membeli cupbab dari toko sebelah dan kembali ke kamar. Di dalamnya ada semangkuk nasi bulgogi, biasanya Aku mengisi perutku dengan kimbap yang harganya 2.000 won, tapi terkadang, Aku juga butuh makanan lain yang seperti ini.
Dan karena Aku menerima tip hari ini, kurasa Aku bisa menganggap ini sebagai hadiah kecil untuk diriku karena sudah bekerja keras.

'Aku harus memakannya sebelum dingin'
Kriuk. Kriuk. Kriuk.

Saat pertama kali Aku memakannya rasanya enak, tapi sekarang, setelah memakannya berkali kali, rasanya Aku mulai lelah.
Aku masih meyakinkan diriku kalau ini enak, menguyahnya perlahan. Lalu tanpa berpikir panjang, Aku mulai makan lebih cepat. Pikiranku memberitahu diriku sendiri kalau Aku harus segera menghabiskannya agar Aku bisa menikmati Royal Roader untuk terakhir kalinya.
Saat melihat jam, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.

Karena Mereka memberitahu kalau layanannya akan berakhir jam 10 malam, Aku masih punya waktu sekitar 2 jam lagi.

'Mari Kita buat ini jadi yang terakhir.'

Aku meletakkan mangkuk kosong lalu duduk didepan komputer. Tidak banyak yang bisa kucapai saat mengambil keputusan ketika memainkan Royal Roader. Tapi ada satu hal. Hal terakhir yang tersisa adalah mengalahkan Bos Monster, Demon Heros, yang tinggal di Blood Field lewat Barat Pertambangan.
Itu adalah monster terkuat dari semua yang pernah Aku buru.

Hal yang bisa kulakukan untuk terakhir kalinya, berburu satu moster itu. Dengan begitu Aku akan lepas tanpa penyesalan.
Aku mulai masuk game melewati Barat Pertambangan menuju kedalam Blood Field.
Aku selalu menimmati permainan solo.
Itu bukan berarti Aku tidak butuh pembantu. Sebagai salah satu karakter top peringkat atas, Aku melakukan perjalanan melintasi benua, menyelesaikan banyak pencarian, dan mendapatkan banyak pengikut dalam prosesnya.
Bahkan ada pejuang hebat diantara diantara pengikutku. Aku meminta pada Penyihir Tower untuk berkumpul di Blood Field.

Totalnya ada 20.000 pengikut yang menjawab panggilanku. Mereka semua adalah orang orang yang dikenal di seluruh benua dalam hal penguasaan senjata Mereka.
Aku juga punya budak pasukan yang kuat. Mereka adalah eksistensi yang mati dan hidup berdasarkan perintahku.

Aku berdiri di depan, para pengikutku menjadi sayapku di kiri dan kanan. Dan budak pasukan memberikan dukungan kuat dari belakang. Kami dengan segera memasuki pusat Blood Field dalam formasi tersebut.

Meskipun Aku harus mengorbankan budak pasukan dan pengikutku yang tak terhitung jumlahnya, perlahan kekuatan iblis pun akhirnya melemah. Dan akhirnya, pertempuran dengan Demon Heros! Ini adalah duel antara dua kekuatan terkuat yang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Itu adalah pertemburan 1 lawan 1 antara Heros melawan Aku.

Heros benar benar kuat. Mau tak mau Aku harus menekan tombol Shortcut 'Q' untuk memberi pemulihan pada diri sendiri secara terus terusan saat Aku memburunya. Tapi, pada akhirnya ini adalah kemenanganku. Setelah melancarkan serangan dengan segenap jiwaku, Aku berhasil mengalahkannya dengan combo hit 36, dengan damage counter yang berfungsi sebagai berdarah saat Aku akhirnya mengalahka Demon Heros.

Banyak item yang mulai keluar. Tentu saja, tidak ada satupun dari sekian banyak yang berarti sebab permainan akan segera berakhir.
Tapi tetap saja mataku memperhatikan item yang agak spesial.

<Ding. Anda telah mendapatkan Marble of Whises. Silahkan sebutkan keinginan anda.>

Ada ruang kosong untuk mengirimkan keinginanmu.
'Siapa juga yang punya keinginan saat game ini akan segera berakhir?!'
Jika menekan tombol pada mouseku, Aku mungkin sudah melakukannya, tapi Aku benci mengetik di keyboardku. Itu terlalu rumit. Jadi Aku akan melewatinya.
'Oh? Rupanya tidak ada tombol skip ya'

Aku tidak bisa men-skipnya. Tidak ada tombol untuk melanjutkannya, dan tidak ada tombol untuk menutup jendela. Ini dibuat agar Kau tidak bisa sampai kelayar berikutnya tanpa mengisi bagian yang kosong.

Aku yakin jika Aku mencarinya di sekitar mungkin Aku akan menemukan caranya. Tapi, akan lebih midah jika Aku mengetik beberapa kata saja.

'Baiklah, akan kujawab.'

Aku baru akan mengetik beberapa kata acak sebelum Aku makin penasaran.

'Haruskah Aku benar benar memasukkan keinginanku? Mungkin saja sang moderator akan tertarik.'
Lagipula, Aku tidak dirugikan.
Saat ini Aku hanya punya satu keinginan. Pembaruan Royal Roader.

Jika itu adalah permintaan seperti ini, msekipun saja Mereka bisa menerimanya dengan senag hati. Mereka mungkin akan memberiku hadiah kecil.

Disisi lain, Aku membayangkan situasi seperti itu. Dimana Royal Roader menjadi kenyataan, dan Aku menjadi karakter utama didalamnya.

Tidak akan ada kehidupan yang lebih keren dari itu.

Aku akan menulisnya sebagai lelucon.

[Pembaharuan Royal Roader menjadi kenyataan.]


Sumber https://aggsannovel.blogspot.com/